Senin, 23 Desember 2024

Just Number : One

 "Besok coba survei produk buat program promosi bulan depan ya Dik. Nanti saya kasi tau Kila buat nemenin kamu selama saya ijin 2 hari ini,"

"Apa gapapa pak dia ikut survei? Kayanya kerjaan Kak Kila lagi banyak banget," 

Pak Hasan terdiam sejenak. Arah matanya memandang meja kerja kosong milik sekretarisnya yang terletak tak jauh dari meja kerjanya.

"Justru karena kerjaan dia lagi banyak makanya saya mau dia ikut kamu, dia pasti seneng bisa ikut survei. Kasian dia udah lama ga jalan-jalan," senyuman penuh kepeduliaan terpancar jelas di wajah laki-laki yang tahun ini menginjak usia 45 tahun itu mengingat bahwa sekretarisnya sudah bekerja keras belakangan ini.

Menjelang akhir tahun perusahaan yang dipimpin oleh Pak Hasan selalu sibuk menyiapkan segala promosi untuk meningkatkan penjualan.

Tak heran jika beberapa minggu belakangan seluruh divisi menjadi sibuk termasuk Kila yang menjabat sebagai sekretaris direksi. 

Deadline laporan akhir tahun terus menghantuinya untuk segera diselesaikan. Hal itu memaksa gadis berambut sebahu itu untuk bertahan di kantor lebih lama dari karyawan lainnya.

"Permisi kak, boleh masuk?" tanya Dikta membuka sedikit pintu ruangan direksi.

"Eh, hai Dik, masuk aja," sahut Kila sekilas dan kembali fokus ke arah laptop di hadapannya.

Dikta menarik kursi di hadapan meja kerja Pak Hasan ke arah meja kerja Kila. Ia menggeser sedikit tumpukan dokumen yang terlihat berserakan di meja kerja Kila.

"Eh, sorry ya berantakan banget meja kerjaku. Bentar, bentar,"

Dikta tersenyum melihat sekretaris direksinya yang memasang wajah bersalah sedang sibuk merapikan kertas-kertas di atas meja kerjanya dan memindahkannya ke meja di belakangnya.

"Gimana Dik? Ada yang bisa dibantu?"

"Itu kak, soal survei produk. Pak Hasan udah info ke Kak Kila belum?" 

"Oh, soal itu udah kok. Mau survei kapan?"

Dikta tak mendengar nada terpaksa atau lelah dari gadis di hadapannya saat ia berbicara mengenai rencana survei yang diperintahkan atasannya. Meskipun Dikta sadar, kedua mata Kila tak bisa berbohong, ia lelah.

"Besok sih kak rencananya, sekitar jam 10 gitu. Kak Kila bisa? Atau kita survei setelah kerjaan Kak Kila selesai aja?" Dikta tak enak hati jika harus mengambil keputusan sendiri tanpa memikirkan kondisi Kila yang sedang dihujani tugas.

Kila terdiam, ia memandang Dikta yang terlihat tak enak hati menentukan waktu jam keberangkatan mereka besok. Ia tersenyum, seakan mengerti kekhawatiran yang sedang rekan kerjanya itu rasakan.

"Kalo nungguin kerjaanku selesai kita baru bisa berangkat survei minggu depan Dik. Aku ngikut kamu aja, survei besok leadernya kamu," ucap Kila meyakinkan Dikta agar tak perlu takut menentukan keputusan.

"Hehe iya kak. Kalo gitu kita berangkat jam 10 gimana kak? Aman?" 

"Aman,"

Kila adalah sosok senior yang Dikta kagumi. Pembawaannya tenang, ramah dan sangat mengayomi semua orang di sekitarnya. Ia tak banyak bicara, sebanyak apapun pekerjaan yang harus ia kerjakan, Dikta tak pernah mendengar Kila mengeluh.


Minggu, 24 Desember 2023

The Idol

Ruang latihan bernuansa abu-abu dengan jendela besar di salah satu sisi ruangan menjadi tempat yang paling sering dikunjungi member One Two Boys belakangan ini. Persiapan comeback yang semakin dekat memaksa mereka untuk berlatih terus menerus.

Jam digital berukuran besar di sudut ruangan menunjukkan angka 20.30, itu artinya mereka sudah berlatih selama 3 jam. Rasa lelah di sekujur tubuh mulai terasa menyerang dengan keringat yang perlahan mulai mengering. Seluruh anggota mulai mengemas barang-barang mereka dan bersiap kembali ke dorm atau asrama.

Hari itu member yang datang hanya 5 orang, Malvin, Jo, Teo, Hans dan Denis. Empat anggota lain sedang memiliki jadwal individu, sehingga mereka pun memutuskan untuk berlatih bersama dengan anggota yang tersisa.

"Eh, bang, gue turun di lantai 5," ucap Malvin saat melihat Teo akan menekan tombol lantai dasar.

"Mau ngapain ke lantai 5?" tanya Teo.

Mendengar pertanyaan Teo, seluruh member saling melempar pandang dengan seyum penuh arti di wajah mereka.

"Ey, Bang Teo pura-pura ga peka," celetuk Hans seraya menyenggol lengan kanan leadernya yang terlihat kebingungan.

"Mau cari energi di lantai 5," sahun Jo yang membuat Malvin semakin salah tingkah.

"Gue duluan ya guys," Malvin melangkah keluar dari lift dengan sorak sorai member yang terus menerus menggodanya.

Deretan pintu dengan bahan kaca buram berjajar di sepanjang koridor lantai 5. Aksen warna putih dan coral menghiasi suasana lorong yang berisi deretan studio rekaman di kanan dan kirinya.

Langkah Malvin terhenti di depan pintu studio rekaman dengan tulisan "Audrey" di depan pintu.

Ia membua knop pintu dengan hati-hati berharap ia tak mengganggu orang-orang yang sedang berada di dalam studio.

Seorang perempuan dengan rambut hitam sebahu sedang fokus memeriksa hasil rekaman suara dengan headphone di telinganya.

Tak ada orang lain di dalam studio selain dirinya.

Malvin memilih untuk duduk di sofa yang terletak di belakang kursi Audrey. Tanpa suara ia memperhatikan gadis yang selalu membuatnya jatuh cinta itu dalam diam.

Kedua maniknya masih tetap memandang punggung gadis cerdas yang selalu memesona Malvin. Senyuman di wajahnya tak hilang sejak pertama kali ia memasuki ruang studio bahkan rasa lelah di tubuhnya setelah latihan pun hilang seketika.

Tak ada niatan Malvin untuk menyadarkan Audrey tentang keberadaannya.

Anggota One Two Boys sering menggoda Malvin ketika ia sedang memperhatikan Audrey hingga tanpa sadar senyumannya selalu mengembang di wajahnya. Tak heran jika Malvin jatuh cinta dengan Audrey, gadis bermata cokelat itu memiliki karisma yang benar-benar terpancar jika sudah bergelut dengan perlatan rekaman.

30 menit berlalu, Audrey mulai melepas headphone di telinganya dan menyandarkan punggungnya di sandaran kursi hitam.

"Gimana hasilnya?"

Suara berat Malvin mengejutkan Audrey yang berniat untuk memejamkan matanya sejenak.

"Astaga, Malvin! Sejak kapan di sini?!" wajah panik Audrey terlihat menggemaskan di mata Malvin.

Ia tertawa seraya melangkah mendekati gadis yang saat ini sedang berusaha menenangkan detak jantungnya yang tak beraturan karena terkejut.

"Wow, calm down babe. You're so cute! Ga lama kok, baru aja, Tadi kamu serius banget, i don't want to disturb you," tangannya meraih puncak kepala Audrey, mengusapnya pelan.

"Sorry, saking seriusnya sampe gak tau kamu masuk," Audrey tertawa.

"Hari ini mau lembur di studio?"

Audrey tak langsung menjawab pertanyaan Malvin. Ia bangun dari tempat duduknya dan menatap kedua manik Malvin dengan senyuman yang berusaha ia tunjukkan di hadapan kekasihnya.

Seakan sedang berkomunikasi melalui pandangan, Malvin pun tersenyum paham.

6 tahun menjalani hubungan membuat mereka berdua memahami satu sama lain bahkan hanya dari pandangan mata.

"Aku orderin makanan ya? Kita makan bareng di sini,"

Setelah memilih beberapa menu untuk mereka makan bersama Malvin pun segeran menekan tulisan 'order' untuk memesan makanan.

"Bang Radit kemana babe? Kok kamu sendirian di studio?"

"Istrinya sakit, jadi dia pamit pulang duluan. Kalo Bang Radit gak pamit, mungkin aku gak bakal lembur hari ini,"

"Aku temenin ya,"

Audrey memandang dalam kedua manik Malvin. Memperhatikan dengan lekat wajah kekasihnya. Sorot mata lelalh jelas terpancar di wajah Malvin, dia butuh istirahat.

"Ga boleh. Lookin' your eyes babe, so tired. Habis makan kamu pulang ya, istirahat. Habis latihan pasti badannya cape,"

"No, I don't feel tired at all. Aku mau temenin kamu sampe beres,"

Audrey paham, sekeras apapun ia menyuruh kekasihnya untuk beristirahat jika Malvin masih melihat kekasihnya berkeja ia tak mau mengistirahatkan dirinya.

"Oke, tapi kalo cape kamu istirahat di sofa ya. Hari ini aku cuma perlu finishing 1 demo aja buat persiapatn debut anak-anak baru," ucap Audrey seraya menarik kursi hitam yang ia gunakan sebelumnya mendekat ke arah Malvin.

Malvin memperhatikan wajah gadisnya yang terlihat sedikit berantakan, jemarinya meraih anak rambut yang menjuntai ke depan dan menyisirnya ke arah belakang.

Perlahan jemarinya berpindah mengusap pipi Audrey yang terasa dingin karena pendingin ruangan. Pipi yang selalu terlihat menggemaskan kini mulai berubah tirus. Malvin bisa merasakan Audrey lebih kurus dibanding sebelumnya.

"Makan yang banyak ya habis ini,"

Audrey membalas tatapan Malvin. Tatapan yang menyiratkan kekhawatiran.

Ia tersenyum memandang Malvin, meraih tangan laki-laki di hadapannya dan membawanya dalam genggaman.

"Don't worry babe. Everything's fine kok. Cuma kurang tidur aja ini makanya jadi makin kurus," tawa ringan dengan mata lengkung yang terlukis pada wajah Audrey tak pernah berubah sejak pertama mereka saling mengenal.

Gadis ramah yang sudah mencuri hati Malvin sejak 8 tahun yang lalu itu tak pernah membuat Malvin bosan untuk sekedar menemaninya menyelesaikan projek rekaman,

Sebagai seorang produser muda, Audrey memiliki penampilan yang sama menganggumkannya dengan para idol di agensinya. Tubuhnya ramping, kulitnya seputih susu, garis wajahnya halus dengan sepasang mata cokelat terang yang menghiasinya. Bibir kecilnya tak pernah melepaskan senyum kepada banyak orang.

Namun, bukan itu yang menjadi alasan Malvin jatuh cinta pada gadis cantik itu. Sosoknya yang begitu hangat dan rendah hati berhasil membuat laki-laki Kanada itu jatuh hati.

"Udah beres?" Malvin melangkah mendekati kursi Audrey, kedua tangannya meraih pundah kecil gadis berambut hitam itu dan mengusapnya pelan.

"Udah,"

Mereka pun berjalan ke arah sofa dan segera menyantap makanan yang sudah mereka pesan.

Semangkuk ramen hangat, dengan beberapa menu pendamping menjadi teman makan mereka berdua malam ini.

"Minggu depan ada fansign di Music Hall,"

"Wah, pasti seru ketemu penggemar. Kasi mereka fan service yang baik ya babe," ucap Audrey dengan senyum yang tak lepas dari wajahnya.

Malvin yang masih sibuk mengunyah makanannya memperhatikan senyum kekasihnya, ntah mengapa ada perasaan bersalah yang tersirat di dalam hatinya.

"Kenapa babe?" tanya Audrey.

"Are you okay?"

Audrey mengerutkan dahinya tak mengerti dengan pertanyaan Malvin.

"Kamu baik-baik aja ngeliat aku sedeket itu sama fans?"

Wajah Malvin terlihat serius, pandangannya khawatir menanti jawaban dari Audrey.

Audrey terdiam. Tak lama senyum manis mengembang di wajahnya. 

"Jadi, kamu pikir selama ini aku cemburu liat kamu sedeket itu sama penggemar kamu?" Malvin menjawab pertanyaan Audrey dengan anggukan ragu.

Seketika tawa Audrey pecah mendengar melihat respon Malvin.

"Babe, yang bikin kamu sampai ada di posisi sekarang selain karena diri kamu sendiri dan agensi, pengaruh besar lainnya itu karena fans. Terus, apa aku cemburu kamu memperlakukan fans kamu dengan baik? Jawabannya no," ucap Audrey seraya meminum segelas air putih sebelum melanjutkan pembicaraannya.

"Malvin di depan aku sekarang ini punya Audrey, tapi Malvin di atas panggung adalah milik penggemar. Memperlakukan mereka dengan baik adalah bentuk kewajiban kamu sebagai balasan atas dukungan yang selalu mereka berikan untuk kamu. Dan aku gak punya hak untuk cemburu,"

Tuntutan sebagai seorang idol yang harus selalu bisa memperlakukan penggemar dengan baik sering kali membuat Malvin merasa tak enak hati dengan kekasihnya. Ia merasa yang boleh menerima perlakuan manisnya hanyalah Audrey. 

Namun, untuk Audrey, itu bukan lah sesuatu yang perlu dipermasalahkan. Ia paham betul bahwa melihat kekasihnya memberikan perlakuan manis kepada perempuan lain adalah resiko yang harus ia tanggung ketika memutuskan membangun hubungan dengan seseorang yang memiliki banyak penggemar.

Karena Audrey tau, semanis apapun perlakuan Malvin kepada penggemarnya, pemenang hati Malvin adalah dirinya.

Selasa, 13 Desember 2022

Sosok Itu Ku Sebut 'Ibu'

Tulisan ini tercipta dari sebuah teras toko yang menjadi saksi betapa sangat mengagumkannya perempuan bernama 'ibu'.

Sosok perempuan luar biasa yang bahkan milyaran kata tak mampu benar-benar mendeskripsikan betapa luar biasanya dia.

Sore itu, seorang perempuan berjalan mendekat memasuki sebuah toko. Membawa sebuah tas anyaman berukuran besar.

Ia tak sendirian, ada sosok gadis muda di belakangnya yang terlihat 'istimewa'.

Perempuan dengan setelan jaket dan rambut cepolnya itu menyodorkan beberapa daftar belanjaan yang harus ia beli.

"Ma, aku haus," ucap gadis yang sedang duduk di salah satu anak tangga depan toko.

"Mau minum apa nak? Mama ambilin,"

Dengan sigap perempuan itu mengambil sebuah minuman kemasan dan memberikannya kepada gadis yang ternyata adalah anaknya.

Perempuan itu kembali memeriksa daftar belanjaan yang ia butuhkan. Sembari sesekali memastikan bahwa anaknya tidak terganggu karena harus menunggu lama.

"Saya bawain ke motor ya bu," ucap pegawai toko.

"Gapapa mbak, bisa kok. Ada anak saya,"

Perempuan itu membawa tas yang sudah terisi penuh dengan berbagai barang belanjaan. 

"Kakak bisa bawa belanjaan gak? Atau mama taruh depan aja?" perempuan itu bertanya kepada sang anak yang sudah bersiap duduk di kursi penumpang belakang. Nadanya lembut hampir terdengar seperti alunan biola yang halus.

"Bisa ma," 

Perlahan, perempuan itu menaiki motor miliknya dan memastikan kembali bahwa anaknya bisa dengan nyaman duduk di belakang membawa barang belanjaan.

Satu hal yang sangat terlihat dari interaksi sore itu, senyum bangga dari perempuan berambut cepol itu tak pernah lepas saat memandangi wajah anaknya, meskipun orang melihatnya 'berbeda'.

Namun, ada sorot kekhawatiran dari kedua maniknya saat melihat sang anak. Kekhawatiran tentang tak akan ada yang bisa menerima anaknya seperti dirinya yang dengan tangan terbuka membantu sang anak bangkit dari tempat duduknya. Kekhawatiran tentang pandangan 'aneh' saat melihat anaknya. Dan kekhawatiran lain yang selalu menghantuinya.

Ibu akan selalu jadi sosok yang paling khawatir dengan kondisi anaknya. Ia takut anaknya diperlakukan tak baik oleh dunia. Sedang dia sudah bersusah payah menjaga cangkang telur kesayangannya agar tak retak sedikit pun.

 Sore itu, cerita hangat tentang sosok perempuan hebat tak berhenti sampai di sana.

Perempuan yang lebih muda datang menggendong seorang bayi laki-laki menggunakan kain batik yang digantungkan pada pundaknya.

Ia datang dengan senyum ramah di wajahnya. Meminta beberapa barang yang ia perlukan untuk berjualan. 

Anak laki-laki dalam gendongannya hanya terdiam, memperhatikan gerak-gerik perempuan yang tak pernah lelah membawanya.

Tak banyak yang perempuan itu beli, namun cukup merepotkan jika semua harus dibawa sendiri sembari menggendong seorang anak.

Namun, ia tetap gembira. Membawa anaknya untuk ikut berbelanja adalah rekreasi sederhana yang bisa ia berikan kepada anaknya untuk sekedar melihat dunia luar selain lingkungan rumah. Memberikan sedikit gambaran tentang bagaimana ibunya berjuang mencari penghidupan untuk dirinya yang masih belum mengerti apa-apa.

Anak laki-laki itu menggemaskan. Ia tak pernah menangis ketika diajak ibunya berbelanja. Ia tak pernah memaksa ibunya untuk pulang cepat ke rumah. Selama itu di dekat ibunya, ia akan tenang.

Tidak kah perempuan itu hebat? 9 bulan bukan waktu yang sebentar untuk membawa nyawa baru di dalam perutnya kemana pun ia pergi. Kini, ketika makhluk kecil itu lahir, ia masih harus membawanya kemana-mana, meminta bantuan kepada pundaknya yang semakin lama semakin melemah, untuk sedikit lebih kuat membawa nyawa kecil itu.

Sosok kuat itu namanya 'ibu'. Sosok yang tak akan pernah mengeluh meskipun tubuhnya lelah. Sosok multitalenta yang bisa berubah jadi apa saja yang anaknya butuhkan.

Sosok yang akan selalu jadi garis terdepan untuk membela mati-matian nyawa kecil yang ia rawat sejak dalam kandungan. Sosok yang akan selalu tersenyum di depan anaknya, sekeras apapun dunia berusaha menghancurkannya.

Rabu, 29 Juni 2022

Tentang Rumah

 Sebagian orang menjadikan rumah sebagai tempat mereka pulang, untuk sekedar beristirahat atau menghabiskan waktu di dalamnya.

Rumah jadi punya banyak makna untuk banyak orang.

Untuk mereka yang hanya mampu membeli sepetak gubuk kayu dengan banyak lubang di sekelilingnya, rumah hanya mampu menjadi sekedar tempat merebahkan punggung lelah mereka.

Tempat yang mereka sebut rumah itu belum benar-benar mampu melindungi mereka dari panasnya siang dan dinginnya malam. 

Mereka sedikit lebih beruntung. Meskipun dinding kayu itu berlubang, mereka masih mempunyai 'bangunan' yang mereka sebut sebagai 'rumah'. 

Ada banyak orang yang belum seberuntung mereka. Masih banyak yang hanya punya langit sebagai atap, tanah sebagai lantai dan tembok pertokoan sebagai dinding 'rumah' mereka. 

Namun, rumah bukan hanya sekedar tempat berlindung atau beristirahat. Rumah juga bisa menjadi tempat dimana kebahagiaan atau bahkan kesedihan tercipta.

Rumah besar dengan banyak kamar di dalamnya, lengkap dengan kolam renang di belakang rumah tak bisa menjadi jaminan kebahagiaan atas pemiliknya. 

Sebaliknya, rumah sederhana yang bahkan toiletnya harus berbagi dengan tetangga tak bisa menjadi patokan bahwa pemiliknya tak bahagia.

Dari perbandingan itu, sebenarnya kita bisa menyimpulkan bahwa kebahagiaan itu tidak ditentukan dari besar kecilnya rumah, tapi lebih kepada dengan siapa kita tinggal dan menghabiskan waktu di rumah itu.

Berbicara tentang rumah as a building bukanlah jaminan kebahagiaan, aku punya makna sendiri tentang apa itu 'rumah'.

Rumah bukan tentang bangunan. Bagiku rumah itu tentang seseorang.

Seseorang yang bisa membuat kita merasakan arti 'pulang' yang sebenarnya. 

Seseorang yang bisa membuat kita nyaman tinggal bersamanya, berbagi cerita dengannya, menangis bahkan tertawa di depannya. 

Rumah bagus dengan fasilitas lengkap, namun tak ada seseorang yang membuatmu merasa nyaman di dalamnya akan percuma. 

Aku merasakan itu.

Dulu, ketika aku kecil. Aku menghabiskan separuh usiaku di dalam sebuah ruangan berukuran 5x5 meter yang disewa orang tuaku dari seorang pemilik kos.

Sejak kecil aku menggunakan ruangan itu untuk tidur, menonton serial tv, makan bersama orang tuaku, bermain, belajar, bahkan berkumpul dengan teman-teman.

Aku tak punya kamar sendiri. Tak punya ruang privasi untuk sekedar menghindari orang tuaku ketika aku kesal setelah dimarahi. 

Aku juga harus berbagi kamar mandi dengan penghuni kamar kos lain. 

Saat itu aku iri dengan orang-orang yang punya kamar sendiri.

Mereka punya ruangan yang bisa mereka hias sesuai keinginan mereka. 

Sedangkan aku, poster idola favoritku harus rela aku letakkan berdesakkan dengan tumpukan baju di dalam lemari.

Satu-satunya ruang yang bisa aku hias sesuka hati hanyalah sekotak ruang kecil di dalam lemari buku milikku. 

Belasan tahun aku hidup tanpa ruang privasi. Menghabiskan waktu bersama orang tua tanpa sekat yang membatasi. 

Hingga akhirnya semesta membantuku.

Aku lulus di sebuah perguruan tinggi negeri yang terletak beda pulau dengan tempat tinggalku semasa sekolah.

Senang sekaligus khawatir itu yang aku rasakan ketika harus hidup sendirian jauh dari orang tua. 

Terbiasa hidup dan tinggal bersama di dalam satu tempat. Membuatku sangat asing tinggal sendirian di kamar kos yang aku tempati.

Kamar kos berukuran 3x3 itu menjadi tempat tinggalku selama menempuh pendidikan.

Tak besar malah cenderung sempit. Namun, aku tetap senang bisa tinggal di dalam kos itu. Aku bisa sesuka hatiku menghias kamar kecil itu dengan keinginanku.

5 tahun tinggal di dalam kos membuatku memiliki pengalaman baru. Waktu yang sebenarnya tak terlalu lama namun cukup membekas itu memberikanku rasa baru tentang ruang privasi yang selama ini aku dambakan. 

Namun, 5 tahun itu membuatku tersadar akan suatu hal. Sebesar apapun rasa nyaman yang tercipta ketika tinggal di dalam kos, ada kalanya aku merindukan suasana berkumpul bersama kedua orang tuaku.

Menghabiskan waktu malam untuk sekedar menikmati acara di layar tv atau membicarakan berbagai hal yang baru saja dilewati.

Bukannya aku tak bisa menghabiskan waktu dengan temanku, namun rasanya berbeda. 

Aku tetap tak merasa 'pulang',

Rumah dan pulang bukan tentang sebuah bangunan. Lebih dari itu, 'pulang ke rumah' adalah bersama dengan orang yang bisa membuatku kita nyaman.

Senin, 27 Desember 2021

Tentang Malam dan Pertemuan dengan Diri Sendiri

Malam jadi pilihan beberapa orang untuk bertemu dengan dirinya sendiri. Bercerita tentang apa yang terjadi hari ini, tentang apa yang dirasakan hari ini. 

Kegelapan malam jadi pilihan yang tepat untuk berdiskusi dengan diri sendiri ketika terangnya siang sudah membuat diri merasa lelah karena kepura-puraan yang dilakukan.

Malam jadi waktu yang intim ketika hanya ada diri sendiri di kegelapan. 

Pikiran menjadi bebas berkeliaran kemana pun ia mau pergi. Ini adalah waktu yang tepat untuk mata melepaskan apa yang sedari tadi sudah ditahannya, hati merelakan apa yang mengganjalnya, dan pikiran menuangkan apa yang sedari tadi ingin meluap.

Gelapnya malam sering membawa kita pada situasi sentimentil. Perlahan, hal-hal yang sebenarnya tak perlu dikhawatirkan muncul secara tiba-tiba di antara kesunyian malam.

Air mata jadi bukti nyata bagaimana diri menahannya sedari tadi agar siang tak mampu menampakkan kesedihannya.

Namun, tak melulu tentang kesedihan. Malam pun banyak menyimpan cerita bahagia.

Malam jadi pilihan untuk mereka yang tak berani membuka topengnya di depan banyak orang untuk  menunjukkan wajah aslinya. 

Hening dan kesunyian malam jadi panggung hiburan. Bersandiwara menjalankan lakon khayalan seakan tak ada beban yang sedang dipikul.

Gelapnya malam membawa kenyamanan bagi sebagian orang. Ketika tidak ada tanggungjawab menjadi badut untuk orang lain. 

Biarlah malam menyimpan semuanya dalam kesunyian.

Kamis, 30 September 2021

Street Feeding: Gerakan Sia-sia?

 Pernah terpikir tidak kenapa ada banyak kucing tak bertuan di sekitar tempat tinggal kita?

Atau pikiran-pikiran 'darimana mereka dapat makanan', 'bagaimana cara mereka bertahan hidup'?

Kucing yang ada di sekitar kita termasuk golongan kucing ras. Namanya kucing moggy atau sering juga disebut sebagai domestic cat (kucing lokal/kucing kampung). Mereka tidak memiliki ciri khusus seperti kucing ras lainnya. Ciri yang dapat terlihat hanya dari bulu mereka yang tergolong pendek dibanding kucing ras yang banyak dipelihara oleh masyarakat Indonesia. 

Sering kali kita menemukan kucing domestik berkeliaran di sekitar tempat tinggal kita. Masuk ke dalam rumah berusaha mencari sesuatu yang bisa dimakan. Jika sudah begitu, biasanya akan ada suara pukulan sapu dari arah dapur untuk mengusir kucing kelaparan yang berusaha mengambil ikan di atas meja.

Pernah terpikir tidak, kenapa mereka harus 'mencuri' makanan milik manusia? Karena kelaparan? Iya, benar. Lalu kenapa harus 'mencuri'? Karena mereka pernah meminta namun diabaikan. 

Banyak kucing mengeong di depan rumah, meminta belas kasihan dari manusia namun tak pernah dipedulikan. Suara mereka dianggap mengganggu. Kehadiran mereka dianggap merugikan karena sering kali sampah di dalam rumah berserakan atau bahkan 1 ikan goreng menghilang dari atas meja. 

'Mencuri' jadi satu-satunya jalan yang mereka ambil untuk bertahan hidup ketika suara 'meong' yang mereka keluarkan tak dihiraukan.

Lalu, sebenarnya, tanggung jawab siapakah mereka ini? Jawabannya adalah manusia. 

Kenapa? Sederhananya, karena kucing dan manusia hidup berdampingan. Manusia ada untuk memberi makan kucing. 

Itu kenapa muncul gerakan 'street feeding' yang dilakukan oleh beberapa orang. Street feeding sendiri mirip seperti kegiatan berbagi makanan kepada kaum duafa namun dengan target yang berbeda.

Street feeding muncul dari rasa tanggung jawab beberapa pihak yang merasa bahwa, kehidupan kucing kampung yang hidup di sekitar adalah tanggung jawabnya. 

Memastikan bahwa kebutuhan pangan mereka tercukupi adalah target utama gerakan ini. Setidaknya lewat gerakan ini mereka bisa memastikan bahwa paling tidak ada 1 nyawa kucing yang diselamatkan setiap harinya.

Tak hanya menjadikan kegiatan ini sebagai bentuk tanggung jawab atas kehidupan kucing, banyak yang menjadikan street feeding sebagai kegiatan sedekah terhadap sesama makhluk hidup.

Tetapi, seperti banyak kegiatan sosial lainnya. Gerakan street feeding ini pun tak luput dari berbagai komentar. Terutama mereka yang kurang atau bahkan tidak memiliki rasa empati terhadap hewan.

Banyak yang beranggapan bahwa gerakan memberi makan kucing liar hanyalah gerakan yang sia-sia. Pendapat ini muncul karena menganggap bahwa memberi makan kucing liar hanya akan membuang uang. Hal itu karena kucing terlihat tidak bisa 'berterima kasih' kepada manusia yang memberikannya makan. 

Beberapa pihak berpendapat bahwa, tidak ada keuntungan yang bisa didapatkan dari melakukan gerakan street feeding. Karena kucing liar yang sudah diberi makan dianggap tak bisa memberikan bantuan kepada manusia.

Mereka beranggapan bahwa, memberikan sedekah kepada manusia lain yang membutuhkan lebih baik dibanding dengan gerakan street feeding. 

Namun, suara-suara sumbang tentang gerakan street feeding yang dianggap sia-sia tak menyurutkan banyak orang untuk tetap memberikan makan kepada kucing-kucing liar di jalanan. 

Dan, salah satu dari 'mereka' yang rela menyisihkan sedikit uangnya untuk memberikan makanan kepada kucing liar adalah aku. 

Gerakan ini pada awalnya bukanlah gerakan yang familiar bagiku. Memberikan makanan kepada kucing liar dengan selalu membawa makanan kucing kemanapun bukanlah hal yang biasa. Buatku, memberi makan kucing cukup dengan memberikan sisa tulang ikan yang sudah selesai aku makan, begitu pendapatku dulu.

Namun, pandanganku terhadap kegiatan memberi makan kucing liar berubah ketika melihat seorang teman yang dengan sukarela selalu membawa botol kecil berisi makanan kering untuk kucing di dalam tasnya.

Waktu itu aku hanya berpikir bahwa ia sangat baik, karena mau memperhatikan hal-hal kecil seperti 'urusan perut kucing' yang tak banyak orang lakukan.

Di masa-masa itu aku hanya menjadi penonton temanku yang tak pernah absen memberikan makanan kepada kucing liar. Belum ada keinginan untuk ikut melakukan gerakan yang sama.

Hingga akhirnya, temanku pergi dan para kucing yang biasa diberi makan oleh temanku mulai kehilangan sumber pangan mereka. Dari situ, mulai ada sesuatu yang mendorongku untuk melanjutkan gerakan yang dilakukan temanku.

Bukan ingin terlihat keren apalagi untuk mendapat pujian di depan banyak orang, kegiatan memberi makan kucing liar tak lebih adalah kegiatan menghibur diri. 

Ada perasaan senang, terharu sekaligus bersyukur ketika aku memberikan makan kucing-kucing liar yang ada di sekitarku. Melihat mereka begitu lahap menghabiskan dry food yang selalu aku bawa di dalam tas membuat aku sadar bahwa, ada makhluk lain selain manusia yang butuh bantuan kita. 

Tak ada yang salah apalagi sia-sia soal membantu sesama makhluk hidup. Perihal apakah yang diberi bisa memberikan balasan atau tidak kepada yang memberi, biar saja itu menjadi urusan Tuhan. Tugas kita sebagai manusia cukup dengan berbuat baik kepada semua makhluk bernyawa yang hidup berdampingan dengan kita.