Pernah terpikir tidak kenapa ada banyak kucing tak bertuan di sekitar tempat tinggal kita?
Atau pikiran-pikiran 'darimana mereka dapat makanan', 'bagaimana cara mereka bertahan hidup'?
Kucing yang ada di sekitar kita termasuk golongan kucing ras. Namanya kucing moggy atau sering juga disebut sebagai domestic cat (kucing lokal/kucing kampung). Mereka tidak memiliki ciri khusus seperti kucing ras lainnya. Ciri yang dapat terlihat hanya dari bulu mereka yang tergolong pendek dibanding kucing ras yang banyak dipelihara oleh masyarakat Indonesia.
Sering kali kita menemukan kucing domestik berkeliaran di sekitar tempat tinggal kita. Masuk ke dalam rumah berusaha mencari sesuatu yang bisa dimakan. Jika sudah begitu, biasanya akan ada suara pukulan sapu dari arah dapur untuk mengusir kucing kelaparan yang berusaha mengambil ikan di atas meja.
Pernah terpikir tidak, kenapa mereka harus 'mencuri' makanan milik manusia? Karena kelaparan? Iya, benar. Lalu kenapa harus 'mencuri'? Karena mereka pernah meminta namun diabaikan.
Banyak kucing mengeong di depan rumah, meminta belas kasihan dari manusia namun tak pernah dipedulikan. Suara mereka dianggap mengganggu. Kehadiran mereka dianggap merugikan karena sering kali sampah di dalam rumah berserakan atau bahkan 1 ikan goreng menghilang dari atas meja.
'Mencuri' jadi satu-satunya jalan yang mereka ambil untuk bertahan hidup ketika suara 'meong' yang mereka keluarkan tak dihiraukan.
Lalu, sebenarnya, tanggung jawab siapakah mereka ini? Jawabannya adalah manusia.
Kenapa? Sederhananya, karena kucing dan manusia hidup berdampingan. Manusia ada untuk memberi makan kucing.
Itu kenapa muncul gerakan 'street feeding' yang dilakukan oleh beberapa orang. Street feeding sendiri mirip seperti kegiatan berbagi makanan kepada kaum duafa namun dengan target yang berbeda.
Street feeding muncul dari rasa tanggung jawab beberapa pihak yang merasa bahwa, kehidupan kucing kampung yang hidup di sekitar adalah tanggung jawabnya.
Memastikan bahwa kebutuhan pangan mereka tercukupi adalah target utama gerakan ini. Setidaknya lewat gerakan ini mereka bisa memastikan bahwa paling tidak ada 1 nyawa kucing yang diselamatkan setiap harinya.
Tak hanya menjadikan kegiatan ini sebagai bentuk tanggung jawab atas kehidupan kucing, banyak yang menjadikan street feeding sebagai kegiatan sedekah terhadap sesama makhluk hidup.
Tetapi, seperti banyak kegiatan sosial lainnya. Gerakan street feeding ini pun tak luput dari berbagai komentar. Terutama mereka yang kurang atau bahkan tidak memiliki rasa empati terhadap hewan.
Banyak yang beranggapan bahwa gerakan memberi makan kucing liar hanyalah gerakan yang sia-sia. Pendapat ini muncul karena menganggap bahwa memberi makan kucing liar hanya akan membuang uang. Hal itu karena kucing terlihat tidak bisa 'berterima kasih' kepada manusia yang memberikannya makan.
Beberapa pihak berpendapat bahwa, tidak ada keuntungan yang bisa didapatkan dari melakukan gerakan street feeding. Karena kucing liar yang sudah diberi makan dianggap tak bisa memberikan bantuan kepada manusia.
Mereka beranggapan bahwa, memberikan sedekah kepada manusia lain yang membutuhkan lebih baik dibanding dengan gerakan street feeding.
Namun, suara-suara sumbang tentang gerakan street feeding yang dianggap sia-sia tak menyurutkan banyak orang untuk tetap memberikan makan kepada kucing-kucing liar di jalanan.
Dan, salah satu dari 'mereka' yang rela menyisihkan sedikit uangnya untuk memberikan makanan kepada kucing liar adalah aku.
Gerakan ini pada awalnya bukanlah gerakan yang familiar bagiku. Memberikan makanan kepada kucing liar dengan selalu membawa makanan kucing kemanapun bukanlah hal yang biasa. Buatku, memberi makan kucing cukup dengan memberikan sisa tulang ikan yang sudah selesai aku makan, begitu pendapatku dulu.
Namun, pandanganku terhadap kegiatan memberi makan kucing liar berubah ketika melihat seorang teman yang dengan sukarela selalu membawa botol kecil berisi makanan kering untuk kucing di dalam tasnya.
Waktu itu aku hanya berpikir bahwa ia sangat baik, karena mau memperhatikan hal-hal kecil seperti 'urusan perut kucing' yang tak banyak orang lakukan.
Di masa-masa itu aku hanya menjadi penonton temanku yang tak pernah absen memberikan makanan kepada kucing liar. Belum ada keinginan untuk ikut melakukan gerakan yang sama.
Hingga akhirnya, temanku pergi dan para kucing yang biasa diberi makan oleh temanku mulai kehilangan sumber pangan mereka. Dari situ, mulai ada sesuatu yang mendorongku untuk melanjutkan gerakan yang dilakukan temanku.
Bukan ingin terlihat keren apalagi untuk mendapat pujian di depan banyak orang, kegiatan memberi makan kucing liar tak lebih adalah kegiatan menghibur diri.
Ada perasaan senang, terharu sekaligus bersyukur ketika aku memberikan makan kucing-kucing liar yang ada di sekitarku. Melihat mereka begitu lahap menghabiskan dry food yang selalu aku bawa di dalam tas membuat aku sadar bahwa, ada makhluk lain selain manusia yang butuh bantuan kita.
Tak ada yang salah apalagi sia-sia soal membantu sesama makhluk hidup. Perihal apakah yang diberi bisa memberikan balasan atau tidak kepada yang memberi, biar saja itu menjadi urusan Tuhan. Tugas kita sebagai manusia cukup dengan berbuat baik kepada semua makhluk bernyawa yang hidup berdampingan dengan kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar