Senin, 23 Desember 2024

Just Number : One

 "Besok coba survei produk buat program promosi bulan depan ya Dik. Nanti saya kasi tau Kila buat nemenin kamu selama saya ijin 2 hari ini,"

"Apa gapapa pak dia ikut survei? Kayanya kerjaan Kak Kila lagi banyak banget," 

Pak Hasan terdiam sejenak. Arah matanya memandang meja kerja kosong milik sekretarisnya yang terletak tak jauh dari meja kerjanya.

"Justru karena kerjaan dia lagi banyak makanya saya mau dia ikut kamu, dia pasti seneng bisa ikut survei. Kasian dia udah lama ga jalan-jalan," senyuman penuh kepeduliaan terpancar jelas di wajah laki-laki yang tahun ini menginjak usia 45 tahun itu mengingat bahwa sekretarisnya sudah bekerja keras belakangan ini.

Menjelang akhir tahun perusahaan yang dipimpin oleh Pak Hasan selalu sibuk menyiapkan segala promosi untuk meningkatkan penjualan.

Tak heran jika beberapa minggu belakangan seluruh divisi menjadi sibuk termasuk Kila yang menjabat sebagai sekretaris direksi. 

Deadline laporan akhir tahun terus menghantuinya untuk segera diselesaikan. Hal itu memaksa gadis berambut sebahu itu untuk bertahan di kantor lebih lama dari karyawan lainnya.

"Permisi kak, boleh masuk?" tanya Dikta membuka sedikit pintu ruangan direksi.

"Eh, hai Dik, masuk aja," sahut Kila sekilas dan kembali fokus ke arah laptop di hadapannya.

Dikta menarik kursi di hadapan meja kerja Pak Hasan ke arah meja kerja Kila. Ia menggeser sedikit tumpukan dokumen yang terlihat berserakan di meja kerja Kila.

"Eh, sorry ya berantakan banget meja kerjaku. Bentar, bentar,"

Dikta tersenyum melihat sekretaris direksinya yang memasang wajah bersalah sedang sibuk merapikan kertas-kertas di atas meja kerjanya dan memindahkannya ke meja di belakangnya.

"Gimana Dik? Ada yang bisa dibantu?"

"Itu kak, soal survei produk. Pak Hasan udah info ke Kak Kila belum?" 

"Oh, soal itu udah kok. Mau survei kapan?"

Dikta tak mendengar nada terpaksa atau lelah dari gadis di hadapannya saat ia berbicara mengenai rencana survei yang diperintahkan atasannya. Meskipun Dikta sadar, kedua mata Kila tak bisa berbohong, ia lelah.

"Besok sih kak rencananya, sekitar jam 10 gitu. Kak Kila bisa? Atau kita survei setelah kerjaan Kak Kila selesai aja?" Dikta tak enak hati jika harus mengambil keputusan sendiri tanpa memikirkan kondisi Kila yang sedang dihujani tugas.

Kila terdiam, ia memandang Dikta yang terlihat tak enak hati menentukan waktu jam keberangkatan mereka besok. Ia tersenyum, seakan mengerti kekhawatiran yang sedang rekan kerjanya itu rasakan.

"Kalo nungguin kerjaanku selesai kita baru bisa berangkat survei minggu depan Dik. Aku ngikut kamu aja, survei besok leadernya kamu," ucap Kila meyakinkan Dikta agar tak perlu takut menentukan keputusan.

"Hehe iya kak. Kalo gitu kita berangkat jam 10 gimana kak? Aman?" 

"Aman,"

Kila adalah sosok senior yang Dikta kagumi. Pembawaannya tenang, ramah dan sangat mengayomi semua orang di sekitarnya. Ia tak banyak bicara, sebanyak apapun pekerjaan yang harus ia kerjakan, Dikta tak pernah mendengar Kila mengeluh.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar