Tulisan ini tercipta dari sebuah teras toko yang menjadi saksi betapa sangat mengagumkannya perempuan bernama 'ibu'.
Sosok perempuan luar biasa yang bahkan milyaran kata tak mampu benar-benar mendeskripsikan betapa luar biasanya dia.
Sore itu, seorang perempuan berjalan mendekat memasuki sebuah toko. Membawa sebuah tas anyaman berukuran besar.
Ia tak sendirian, ada sosok gadis muda di belakangnya yang terlihat 'istimewa'.
Perempuan dengan setelan jaket dan rambut cepolnya itu menyodorkan beberapa daftar belanjaan yang harus ia beli.
"Ma, aku haus," ucap gadis yang sedang duduk di salah satu anak tangga depan toko.
"Mau minum apa nak? Mama ambilin,"
Dengan sigap perempuan itu mengambil sebuah minuman kemasan dan memberikannya kepada gadis yang ternyata adalah anaknya.
Perempuan itu kembali memeriksa daftar belanjaan yang ia butuhkan. Sembari sesekali memastikan bahwa anaknya tidak terganggu karena harus menunggu lama.
"Saya bawain ke motor ya bu," ucap pegawai toko.
"Gapapa mbak, bisa kok. Ada anak saya,"
Perempuan itu membawa tas yang sudah terisi penuh dengan berbagai barang belanjaan.
"Kakak bisa bawa belanjaan gak? Atau mama taruh depan aja?" perempuan itu bertanya kepada sang anak yang sudah bersiap duduk di kursi penumpang belakang. Nadanya lembut hampir terdengar seperti alunan biola yang halus.
"Bisa ma,"
Perlahan, perempuan itu menaiki motor miliknya dan memastikan kembali bahwa anaknya bisa dengan nyaman duduk di belakang membawa barang belanjaan.
Satu hal yang sangat terlihat dari interaksi sore itu, senyum bangga dari perempuan berambut cepol itu tak pernah lepas saat memandangi wajah anaknya, meskipun orang melihatnya 'berbeda'.
Namun, ada sorot kekhawatiran dari kedua maniknya saat melihat sang anak. Kekhawatiran tentang tak akan ada yang bisa menerima anaknya seperti dirinya yang dengan tangan terbuka membantu sang anak bangkit dari tempat duduknya. Kekhawatiran tentang pandangan 'aneh' saat melihat anaknya. Dan kekhawatiran lain yang selalu menghantuinya.
Ibu akan selalu jadi sosok yang paling khawatir dengan kondisi anaknya. Ia takut anaknya diperlakukan tak baik oleh dunia. Sedang dia sudah bersusah payah menjaga cangkang telur kesayangannya agar tak retak sedikit pun.
Sore itu, cerita hangat tentang sosok perempuan hebat tak berhenti sampai di sana.
Perempuan yang lebih muda datang menggendong seorang bayi laki-laki menggunakan kain batik yang digantungkan pada pundaknya.
Ia datang dengan senyum ramah di wajahnya. Meminta beberapa barang yang ia perlukan untuk berjualan.
Anak laki-laki dalam gendongannya hanya terdiam, memperhatikan gerak-gerik perempuan yang tak pernah lelah membawanya.
Tak banyak yang perempuan itu beli, namun cukup merepotkan jika semua harus dibawa sendiri sembari menggendong seorang anak.
Namun, ia tetap gembira. Membawa anaknya untuk ikut berbelanja adalah rekreasi sederhana yang bisa ia berikan kepada anaknya untuk sekedar melihat dunia luar selain lingkungan rumah. Memberikan sedikit gambaran tentang bagaimana ibunya berjuang mencari penghidupan untuk dirinya yang masih belum mengerti apa-apa.
Anak laki-laki itu menggemaskan. Ia tak pernah menangis ketika diajak ibunya berbelanja. Ia tak pernah memaksa ibunya untuk pulang cepat ke rumah. Selama itu di dekat ibunya, ia akan tenang.
Tidak kah perempuan itu hebat? 9 bulan bukan waktu yang sebentar untuk membawa nyawa baru di dalam perutnya kemana pun ia pergi. Kini, ketika makhluk kecil itu lahir, ia masih harus membawanya kemana-mana, meminta bantuan kepada pundaknya yang semakin lama semakin melemah, untuk sedikit lebih kuat membawa nyawa kecil itu.
Sosok kuat itu namanya 'ibu'. Sosok yang tak akan pernah mengeluh meskipun tubuhnya lelah. Sosok multitalenta yang bisa berubah jadi apa saja yang anaknya butuhkan.
Sosok yang akan selalu jadi garis terdepan untuk membela mati-matian nyawa kecil yang ia rawat sejak dalam kandungan. Sosok yang akan selalu tersenyum di depan anaknya, sekeras apapun dunia berusaha menghancurkannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar