Sebagian orang menjadikan rumah sebagai tempat mereka pulang, untuk sekedar beristirahat atau menghabiskan waktu di dalamnya.
Rumah jadi punya banyak makna untuk banyak orang.
Untuk mereka yang hanya mampu membeli sepetak gubuk kayu dengan banyak lubang di sekelilingnya, rumah hanya mampu menjadi sekedar tempat merebahkan punggung lelah mereka.
Tempat yang mereka sebut rumah itu belum benar-benar mampu melindungi mereka dari panasnya siang dan dinginnya malam.
Mereka sedikit lebih beruntung. Meskipun dinding kayu itu berlubang, mereka masih mempunyai 'bangunan' yang mereka sebut sebagai 'rumah'.
Ada banyak orang yang belum seberuntung mereka. Masih banyak yang hanya punya langit sebagai atap, tanah sebagai lantai dan tembok pertokoan sebagai dinding 'rumah' mereka.
Namun, rumah bukan hanya sekedar tempat berlindung atau beristirahat. Rumah juga bisa menjadi tempat dimana kebahagiaan atau bahkan kesedihan tercipta.
Rumah besar dengan banyak kamar di dalamnya, lengkap dengan kolam renang di belakang rumah tak bisa menjadi jaminan kebahagiaan atas pemiliknya.
Sebaliknya, rumah sederhana yang bahkan toiletnya harus berbagi dengan tetangga tak bisa menjadi patokan bahwa pemiliknya tak bahagia.
Dari perbandingan itu, sebenarnya kita bisa menyimpulkan bahwa kebahagiaan itu tidak ditentukan dari besar kecilnya rumah, tapi lebih kepada dengan siapa kita tinggal dan menghabiskan waktu di rumah itu.
Berbicara tentang rumah as a building bukanlah jaminan kebahagiaan, aku punya makna sendiri tentang apa itu 'rumah'.
Rumah bukan tentang bangunan. Bagiku rumah itu tentang seseorang.
Seseorang yang bisa membuat kita merasakan arti 'pulang' yang sebenarnya.
Seseorang yang bisa membuat kita nyaman tinggal bersamanya, berbagi cerita dengannya, menangis bahkan tertawa di depannya.
Rumah bagus dengan fasilitas lengkap, namun tak ada seseorang yang membuatmu merasa nyaman di dalamnya akan percuma.
Aku merasakan itu.
Dulu, ketika aku kecil. Aku menghabiskan separuh usiaku di dalam sebuah ruangan berukuran 5x5 meter yang disewa orang tuaku dari seorang pemilik kos.
Sejak kecil aku menggunakan ruangan itu untuk tidur, menonton serial tv, makan bersama orang tuaku, bermain, belajar, bahkan berkumpul dengan teman-teman.
Aku tak punya kamar sendiri. Tak punya ruang privasi untuk sekedar menghindari orang tuaku ketika aku kesal setelah dimarahi.
Aku juga harus berbagi kamar mandi dengan penghuni kamar kos lain.
Saat itu aku iri dengan orang-orang yang punya kamar sendiri.
Mereka punya ruangan yang bisa mereka hias sesuai keinginan mereka.
Sedangkan aku, poster idola favoritku harus rela aku letakkan berdesakkan dengan tumpukan baju di dalam lemari.
Satu-satunya ruang yang bisa aku hias sesuka hati hanyalah sekotak ruang kecil di dalam lemari buku milikku.
Belasan tahun aku hidup tanpa ruang privasi. Menghabiskan waktu bersama orang tua tanpa sekat yang membatasi.
Hingga akhirnya semesta membantuku.
Aku lulus di sebuah perguruan tinggi negeri yang terletak beda pulau dengan tempat tinggalku semasa sekolah.
Senang sekaligus khawatir itu yang aku rasakan ketika harus hidup sendirian jauh dari orang tua.
Terbiasa hidup dan tinggal bersama di dalam satu tempat. Membuatku sangat asing tinggal sendirian di kamar kos yang aku tempati.
Kamar kos berukuran 3x3 itu menjadi tempat tinggalku selama menempuh pendidikan.
Tak besar malah cenderung sempit. Namun, aku tetap senang bisa tinggal di dalam kos itu. Aku bisa sesuka hatiku menghias kamar kecil itu dengan keinginanku.
5 tahun tinggal di dalam kos membuatku memiliki pengalaman baru. Waktu yang sebenarnya tak terlalu lama namun cukup membekas itu memberikanku rasa baru tentang ruang privasi yang selama ini aku dambakan.
Namun, 5 tahun itu membuatku tersadar akan suatu hal. Sebesar apapun rasa nyaman yang tercipta ketika tinggal di dalam kos, ada kalanya aku merindukan suasana berkumpul bersama kedua orang tuaku.
Menghabiskan waktu malam untuk sekedar menikmati acara di layar tv atau membicarakan berbagai hal yang baru saja dilewati.
Bukannya aku tak bisa menghabiskan waktu dengan temanku, namun rasanya berbeda.
Aku tetap tak merasa 'pulang',
Rumah dan pulang bukan tentang sebuah bangunan. Lebih dari itu, 'pulang ke rumah' adalah bersama dengan orang yang bisa membuatku kita nyaman.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar