Minggu, 24 Desember 2023

The Idol

Ruang latihan bernuansa abu-abu dengan jendela besar di salah satu sisi ruangan menjadi tempat yang paling sering dikunjungi member One Two Boys belakangan ini. Persiapan comeback yang semakin dekat memaksa mereka untuk berlatih terus menerus.

Jam digital berukuran besar di sudut ruangan menunjukkan angka 20.30, itu artinya mereka sudah berlatih selama 3 jam. Rasa lelah di sekujur tubuh mulai terasa menyerang dengan keringat yang perlahan mulai mengering. Seluruh anggota mulai mengemas barang-barang mereka dan bersiap kembali ke dorm atau asrama.

Hari itu member yang datang hanya 5 orang, Malvin, Jo, Teo, Hans dan Denis. Empat anggota lain sedang memiliki jadwal individu, sehingga mereka pun memutuskan untuk berlatih bersama dengan anggota yang tersisa.

"Eh, bang, gue turun di lantai 5," ucap Malvin saat melihat Teo akan menekan tombol lantai dasar.

"Mau ngapain ke lantai 5?" tanya Teo.

Mendengar pertanyaan Teo, seluruh member saling melempar pandang dengan seyum penuh arti di wajah mereka.

"Ey, Bang Teo pura-pura ga peka," celetuk Hans seraya menyenggol lengan kanan leadernya yang terlihat kebingungan.

"Mau cari energi di lantai 5," sahun Jo yang membuat Malvin semakin salah tingkah.

"Gue duluan ya guys," Malvin melangkah keluar dari lift dengan sorak sorai member yang terus menerus menggodanya.

Deretan pintu dengan bahan kaca buram berjajar di sepanjang koridor lantai 5. Aksen warna putih dan coral menghiasi suasana lorong yang berisi deretan studio rekaman di kanan dan kirinya.

Langkah Malvin terhenti di depan pintu studio rekaman dengan tulisan "Audrey" di depan pintu.

Ia membua knop pintu dengan hati-hati berharap ia tak mengganggu orang-orang yang sedang berada di dalam studio.

Seorang perempuan dengan rambut hitam sebahu sedang fokus memeriksa hasil rekaman suara dengan headphone di telinganya.

Tak ada orang lain di dalam studio selain dirinya.

Malvin memilih untuk duduk di sofa yang terletak di belakang kursi Audrey. Tanpa suara ia memperhatikan gadis yang selalu membuatnya jatuh cinta itu dalam diam.

Kedua maniknya masih tetap memandang punggung gadis cerdas yang selalu memesona Malvin. Senyuman di wajahnya tak hilang sejak pertama kali ia memasuki ruang studio bahkan rasa lelah di tubuhnya setelah latihan pun hilang seketika.

Tak ada niatan Malvin untuk menyadarkan Audrey tentang keberadaannya.

Anggota One Two Boys sering menggoda Malvin ketika ia sedang memperhatikan Audrey hingga tanpa sadar senyumannya selalu mengembang di wajahnya. Tak heran jika Malvin jatuh cinta dengan Audrey, gadis bermata cokelat itu memiliki karisma yang benar-benar terpancar jika sudah bergelut dengan perlatan rekaman.

30 menit berlalu, Audrey mulai melepas headphone di telinganya dan menyandarkan punggungnya di sandaran kursi hitam.

"Gimana hasilnya?"

Suara berat Malvin mengejutkan Audrey yang berniat untuk memejamkan matanya sejenak.

"Astaga, Malvin! Sejak kapan di sini?!" wajah panik Audrey terlihat menggemaskan di mata Malvin.

Ia tertawa seraya melangkah mendekati gadis yang saat ini sedang berusaha menenangkan detak jantungnya yang tak beraturan karena terkejut.

"Wow, calm down babe. You're so cute! Ga lama kok, baru aja, Tadi kamu serius banget, i don't want to disturb you," tangannya meraih puncak kepala Audrey, mengusapnya pelan.

"Sorry, saking seriusnya sampe gak tau kamu masuk," Audrey tertawa.

"Hari ini mau lembur di studio?"

Audrey tak langsung menjawab pertanyaan Malvin. Ia bangun dari tempat duduknya dan menatap kedua manik Malvin dengan senyuman yang berusaha ia tunjukkan di hadapan kekasihnya.

Seakan sedang berkomunikasi melalui pandangan, Malvin pun tersenyum paham.

6 tahun menjalani hubungan membuat mereka berdua memahami satu sama lain bahkan hanya dari pandangan mata.

"Aku orderin makanan ya? Kita makan bareng di sini,"

Setelah memilih beberapa menu untuk mereka makan bersama Malvin pun segeran menekan tulisan 'order' untuk memesan makanan.

"Bang Radit kemana babe? Kok kamu sendirian di studio?"

"Istrinya sakit, jadi dia pamit pulang duluan. Kalo Bang Radit gak pamit, mungkin aku gak bakal lembur hari ini,"

"Aku temenin ya,"

Audrey memandang dalam kedua manik Malvin. Memperhatikan dengan lekat wajah kekasihnya. Sorot mata lelalh jelas terpancar di wajah Malvin, dia butuh istirahat.

"Ga boleh. Lookin' your eyes babe, so tired. Habis makan kamu pulang ya, istirahat. Habis latihan pasti badannya cape,"

"No, I don't feel tired at all. Aku mau temenin kamu sampe beres,"

Audrey paham, sekeras apapun ia menyuruh kekasihnya untuk beristirahat jika Malvin masih melihat kekasihnya berkeja ia tak mau mengistirahatkan dirinya.

"Oke, tapi kalo cape kamu istirahat di sofa ya. Hari ini aku cuma perlu finishing 1 demo aja buat persiapatn debut anak-anak baru," ucap Audrey seraya menarik kursi hitam yang ia gunakan sebelumnya mendekat ke arah Malvin.

Malvin memperhatikan wajah gadisnya yang terlihat sedikit berantakan, jemarinya meraih anak rambut yang menjuntai ke depan dan menyisirnya ke arah belakang.

Perlahan jemarinya berpindah mengusap pipi Audrey yang terasa dingin karena pendingin ruangan. Pipi yang selalu terlihat menggemaskan kini mulai berubah tirus. Malvin bisa merasakan Audrey lebih kurus dibanding sebelumnya.

"Makan yang banyak ya habis ini,"

Audrey membalas tatapan Malvin. Tatapan yang menyiratkan kekhawatiran.

Ia tersenyum memandang Malvin, meraih tangan laki-laki di hadapannya dan membawanya dalam genggaman.

"Don't worry babe. Everything's fine kok. Cuma kurang tidur aja ini makanya jadi makin kurus," tawa ringan dengan mata lengkung yang terlukis pada wajah Audrey tak pernah berubah sejak pertama mereka saling mengenal.

Gadis ramah yang sudah mencuri hati Malvin sejak 8 tahun yang lalu itu tak pernah membuat Malvin bosan untuk sekedar menemaninya menyelesaikan projek rekaman,

Sebagai seorang produser muda, Audrey memiliki penampilan yang sama menganggumkannya dengan para idol di agensinya. Tubuhnya ramping, kulitnya seputih susu, garis wajahnya halus dengan sepasang mata cokelat terang yang menghiasinya. Bibir kecilnya tak pernah melepaskan senyum kepada banyak orang.

Namun, bukan itu yang menjadi alasan Malvin jatuh cinta pada gadis cantik itu. Sosoknya yang begitu hangat dan rendah hati berhasil membuat laki-laki Kanada itu jatuh hati.

"Udah beres?" Malvin melangkah mendekati kursi Audrey, kedua tangannya meraih pundah kecil gadis berambut hitam itu dan mengusapnya pelan.

"Udah,"

Mereka pun berjalan ke arah sofa dan segera menyantap makanan yang sudah mereka pesan.

Semangkuk ramen hangat, dengan beberapa menu pendamping menjadi teman makan mereka berdua malam ini.

"Minggu depan ada fansign di Music Hall,"

"Wah, pasti seru ketemu penggemar. Kasi mereka fan service yang baik ya babe," ucap Audrey dengan senyum yang tak lepas dari wajahnya.

Malvin yang masih sibuk mengunyah makanannya memperhatikan senyum kekasihnya, ntah mengapa ada perasaan bersalah yang tersirat di dalam hatinya.

"Kenapa babe?" tanya Audrey.

"Are you okay?"

Audrey mengerutkan dahinya tak mengerti dengan pertanyaan Malvin.

"Kamu baik-baik aja ngeliat aku sedeket itu sama fans?"

Wajah Malvin terlihat serius, pandangannya khawatir menanti jawaban dari Audrey.

Audrey terdiam. Tak lama senyum manis mengembang di wajahnya. 

"Jadi, kamu pikir selama ini aku cemburu liat kamu sedeket itu sama penggemar kamu?" Malvin menjawab pertanyaan Audrey dengan anggukan ragu.

Seketika tawa Audrey pecah mendengar melihat respon Malvin.

"Babe, yang bikin kamu sampai ada di posisi sekarang selain karena diri kamu sendiri dan agensi, pengaruh besar lainnya itu karena fans. Terus, apa aku cemburu kamu memperlakukan fans kamu dengan baik? Jawabannya no," ucap Audrey seraya meminum segelas air putih sebelum melanjutkan pembicaraannya.

"Malvin di depan aku sekarang ini punya Audrey, tapi Malvin di atas panggung adalah milik penggemar. Memperlakukan mereka dengan baik adalah bentuk kewajiban kamu sebagai balasan atas dukungan yang selalu mereka berikan untuk kamu. Dan aku gak punya hak untuk cemburu,"

Tuntutan sebagai seorang idol yang harus selalu bisa memperlakukan penggemar dengan baik sering kali membuat Malvin merasa tak enak hati dengan kekasihnya. Ia merasa yang boleh menerima perlakuan manisnya hanyalah Audrey. 

Namun, untuk Audrey, itu bukan lah sesuatu yang perlu dipermasalahkan. Ia paham betul bahwa melihat kekasihnya memberikan perlakuan manis kepada perempuan lain adalah resiko yang harus ia tanggung ketika memutuskan membangun hubungan dengan seseorang yang memiliki banyak penggemar.

Karena Audrey tau, semanis apapun perlakuan Malvin kepada penggemarnya, pemenang hati Malvin adalah dirinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar